Pernah lihat kucingmu muntah, lalu di dalam muntahannya ada gumpalan kecil putih sepanjang beberapa sentimeter yang masih bergerak? Itu cacing gelang dewasa. Momen itu bikin panik, tapi sebenarnya cacingan pada kucing jauh lebih umum daripada yang disangka, terutama untuk kucing yang suka keluar rumah atau anak kucing yang baru lahir.

Masalahnya, cacingan sering datang tanpa gejala yang mencolok sampai jumlahnya sudah banyak. Saya sendiri baru sadar kucing saya kena cacing pita ketika melihat butiran kecil seperti biji wijen di sekitar anusnya. Kalau tidak dicek, infeksi ini pelan-pelan bikin kucing kurus, lesu, bahkan anemia.

Kenapa Kucing Bisa Cacingan?

Jalur penularannya lebih banyak dari yang kamu kira. Anak kucing bisa tertular dari induknya lewat air susu, khususnya cacing gelang. Telur cacing juga bisa menempel di tanah, rumput, atau permukaan yang pernah kena feses kucing yang terinfeksi, lalu ikut tertelan saat kucing menjilati kakinya. Kutu jadi biang keladi juga: kucing yang menelan kutu saat grooming bisa kena cacing pita, karena kutu berperan sebagai inang perantara. Begitu juga kucing yang hobi berburu tikus, burung, atau kadal.

Jenis Cacing yang Paling Sering Menyerang Kucing

Cacing gelang (roundworm, Toxocara cati) paling umum. Bentuknya seperti mie spaghetti, kadang keluar lewat muntah atau feses. Cacing pita (tapeworm, Dipylidium caninum) bentuknya pipih dan panjang; ciri khasnya adalah segmen kecil mirip butiran beras yang menempel di bulu sekitar anus. Lalu ada cacing tambang (hookworm) yang menempel di dinding usus dan menghisap darah, sehingga sering memicu anemia pada anak kucing. Yang lebih jarang tapi berbahaya adalah heartworm (Dirofilaria immitis), cacing yang hidup di jantung dan paru-paru, ditularkan lewat gigitan nyamuk.

Gejala Cacingan yang Harus Kamu Waspadai

Tanda paling khas adalah perut buncit tapi badan kurus, terutama pada anak kucing. Bulu jadi kusam dan kasar, nafsu makan bisa turun atau malah rakus tapi beratnya tidak naik. Sebagian kucing diare atau muntah, dan kadang muntahannya berisi cacing. Kalau sudah parah, gusi terlihat pucat karena anemia. Untuk cacing pita, kamu mungkin melihat kucing sering menjilat area anus karena gatal. Satu saja gejala ini muncul, apalagi kombinasi beberapa, sebaiknya segera bawa ke dokter hewan — jangan ditunda sambil nebak-nebak sendiri.

Jangan pernah memberi obat cacing manusia atau obat kutu anjing untuk kucing. Dosisnya berbeda dan sebagian bahan aktif, seperti permethrin, bisa mematikan bagi kucing. Selalu pakai produk yang memang diformulasikan untuk kucing dan ikuti dosis berdasarkan berat badan.

Jadwal Pemberian Obat Cacing yang Benar

Jadwalnya tidak sama untuk semua umur. Anak kucing mulai diberi obat cacing sejak umur 2 minggu, lalu diulang tiap 2 minggu sampai umur 8 minggu, kemudian sebulan sekali sampai umur 6 bulan. Setelah itu, kucing dewasa cukup diberi obat cacing tiap 3 bulan sekali. Kucing yang sering keluar rumah, hobi berburu, atau tinggal serumah dengan anak kecil biasanya disarankan lebih sering, bisa tiap 1–2 bulan.

Kebanyakan dokter hewan memasukkan jadwal obat cacing bersamaan dengan jadwal vaksinasi saat pemeriksaan rutin. Kalau kamu belum tahu harus mulai dari mana, baca juga panduan vaksinasi kucing supaya jadwal kesehatan kucingmu lebih teratur.

Pilihan Obat Cacing yang Umum Dipakai

Obat cacing kucing biasanya berbentuk tablet, pasta, atau obat tetes di tengkuk (spot-on). Drontal dan Milbemax termasuk yang paling sering direkomendasikan karena membasmi beberapa jenis cacing sekaligus, termasuk cacing pita. Profender bekerja sebagai obat tetes, cocok untuk kucing yang susah dicekoki tablet. Ada juga pyrantel pamoate yang lebih murah, tapi hanya efektif untuk cacing gelang dan cacing tambang, tidak untuk cacing pita. Untuk pencegahan heartworm, biasanya dokter meresepkan selamectin atau milbemycin dalam bentuk spot-on bulanan.

Yang penting: timbang dulu kucingmu sebelum beli. Dosis obat cacing dihitung dari berat badan, dan tablet untuk kucing 4 kg tidak bisa dibelah sembarangan. Kalau ragu, beli di pet shop yang bisa bantu timbang, atau langsung minta resep dari dokter hewan.

Cara Mencegah Cacingan agar Tidak Balik Lagi

Obat cacing hanya membunuh cacing yang ada saat itu; telur dan larva di lingkungan tetap bisa menginfeksi ulang. Karena itu bersihkan litter box setiap hari dan buang fesesnya, jangan tunggu berhari-hari. Kendalikan kutu secara rutin, karena kutu adalah pintu masuk cacing pita. Kalau memungkinkan, batasi kucing berburu tikus atau burung. Cuci tangan setelah bersih-bersih litter box, sebab beberapa jenis cacing, seperti Toxocara, bisa menular ke manusia terutama anak-anak.

Untuk memastikan perlindungan parasitnya lengkap, kamu bisa lihat rekomendasi produk pencegahan parasit. Kalau kucingmu masih kitten, urutan perawatannya lebih lengkap di panduan merawat anak kucing.

Sebagian besar kasus cacingan memang tidak darurat, tapi gejalanya gampang tertukar dengan penyakit lain. Kalau kamu ragu membedakan cacingan dengan masalah kesehatan lain, artikel tentang penyakit umum pada kucing bisa jadi pembanding yang berguna sebelum kamu memutuskan pergi ke klinik.

Apakah cacingan pada kucing bisa menular ke manusia?

Beberapa jenis bisa, terutama cacing gelang (Toxocara) dan cacing tambang. Telurnya bisa masuk ke tubuh manusia lewat tangan yang kotor setelah menyentuh feses atau tanah yang terkontaminasi. Anak-anak paling rentan. Risikonya bisa ditekan dengan mencuci tangan, membersihkan litter box setiap hari, dan rutin memberi obat cacing pada kucing.

Berapa kali setahun kucing dewasa perlu obat cacing?

Idealnya 4 kali setahun atau tiap 3 bulan. Kucing yang selalu di dalam rumah tanpa kontak dengan hewan lain dan bebas kutu mungkin bisa lebih jarang, tapi banyak dokter hewan tetap menyarankan tiap 3 bulan demi aman, terutama kalau di rumah ada anak kecil.

Haruskah obat cacing dibeli dengan resep dokter?

Tidak harus untuk obat cacing umum seperti Drontal atau Milbemax, tapi dosisnya harus sesuai berat badan. Untuk heartworm dan kombinasi dengan obat kutu, sebaiknya konsultasi dulu karena produknya lebih spesifik dan sebagian hanya dijual lewat dokter hewan.

Apakah cacingan bisa sembuh sendiri tanpa obat?

Tidak. Cacing tidak akan hilang sendiri, dan makin lama jumlahnya bisa makin banyak. Obat cacing adalah satu-satunya cara efektif, ditambah kebersihan lingkungan agar tidak kambuh.