Kenari saya beberapa hari lalu mendadak gelisah. Dia terus mematuk-matuk bulunya, tidurnya tidak tenang, dan bulu di sekitar leher mulai kusam. Saya kira cuma masuk angin, sampai akhirnya saya periksa bulunya di bawah lampu: ada titik-titik hitam kecil yang bergerak di sela-sela bulu. Tungau. Masalah kutu dan tungau pada burung peliharaan memang sering disepelekan, padahal kalau dibiarkan bisa membuat burung lemas, anemia, bahkan mati.
Kenapa Burung Kandang Rentan Terkena Kutu dan Tungau?
Burung yang dipelihara dalam kandang hidup di ruang yang terbatas. Sisa pakan, kotoran, dan bulu rontok yang menumpuk jadi tempat ideal bagi parasit untuk berkembang biak. Tambah lagi iklim Indonesia yang hangat dan lembap, siklus hidup tungau jadi makin cepat.
Parasit luar bisa masuk lewat banyak jalan: burung baru yang kamu beli, sangkar bekas, tenggeran kayu, bahkan burung liar yang hinggap di dekat kandang. Sekali masuk, mereka berkembang biak dengan cepat dan menyebar ke burung lain dalam satu rumah.
Jenis Kutu dan Tungau yang Paling Sering Menyerang
Tidak semua parasit luar itu sama. Cara membasminya juga beda, jadi penting untuk tahu musuhmu dulu. Ini empat jenis yang paling sering ditemukan pada burung peliharaan di Indonesia.
Kutu bulu (feather lice)
Kutu bulu hidup di permukaan bulu dan makan serpihan bulu serta kulit mati. Bentuknya pipih, berwarna kuning kecoklatan, dan terlihat menempel di pangkal bulu. Burung yang kena kutu bulu jadi sering merapikan bulu dan tampak tidak nyaman, tapi jarang sampai anemia karena kutu ini tidak mengisap darah.
Tungau merah (red mite)
Ini yang paling berbahaya. Tungau merah mengisap darah dan aktif di malam hari. Siang hari mereka bersembunyi di celah sangkar, sambungan kayu, dan bawah tenggeran, bukan di tubuh burung. Kamu bisa mendeteksinya dari bintik merah kecil yang muncul di dasar kandang atau di tanganmu setelah memegang burung. Serangan berat bikin burung pucat, lesu, dan anemia.
Tungau kudis (scaly face mite)
Jenis ini menyerang bagian tubuh yang tidak berbulu: kaki, paruh, dan sekitar mata. Gejala khasnya kerak putih seperti kapur yang menumpuk di kaki dan paruh. Sering menyerang lovebird dan parkit, dan kalau tidak diobati, keraknya bisa menutupi lubang hidung sampai burung sulit bernapas.
Tungau kantung udara (air sac mite)
Berbeda dari yang lain, tungau ini menyerang saluran pernapasan. Burung jadi bersin-bersin, suaranya serak, dan sering membuka paruh karena susah bernapas. Kenari paling rentan kena jenis ini.
Gejala yang Harus Kamu Waspadai
Kutu dan tungau tidak selalu terlihat dengan mata telanjang, apalagi tungau merah yang baru keluar di malam hari. Jadi perhatikan juga perubahan perilakunya:
- Gelisah dan sering mematuk-matuk atau mencabuti bulu sendiri.
- Bulu kusam, rontok, dan tidak rapi meski sudah dijemur rutin.
- Sulit tidur atau tampak tidak nyaman di malam hari, ciri khas tungau merah.
- Kerak putih di kaki, paruh, atau sekitar mata, ciri khas tungau kudis.
- Lesu, pucat, dan nafsu makan menurun, tanda anemia.
- Bersin-bersin dan suara serak tanpa sebab jelas, tanda tungau kantung udara.
Tungau merah bisa membuat burung anemia berat dalam hitungan hari, terutama anak burung. Kalau burung sudah terlihat lesu dan pucat, jangan ditunda. Bawa ke dokter hewan secepatnya.
Cara Membasmi Kutu dan Tungau sampai Tuntas
Kesalahan paling umum adalah cuma mengobati burungnya, sementara sangkarnya dibiarkan. Telur tungau dan kutu menetas di celah sangkar, bukan di tubuh burung. Jadi bersihkan dua-duanya.
Pertama, pindahkan burung ke kandang karantina yang bersih. Lalu bersihkan sangkar lama total: sikat seluruh permukaan, siram air panas, dan jemur di bawah matahari terik. Panas dan sinar matahari efektif membunuh tungau dan telurnya yang bersembunyi di celah-celah kayu.
Untuk burungnya, pakai bedak atau semprotan anti kutu yang memang diformulasikan untuk burung. Untuk kerak kaki akibat tungau kudis, rendam kaki burung dengan air hangat lalu oleskan salep sulfur tipis-tipis. Kasus berat biasanya butuh obat tetes ivermectin, tapi itu harus lewat resep dan dosis dari dokter hewan.
Ulangi perawatan 7 sampai 10 hari kemudian. Siklus hidup tungau sekitar seminggu, jadi perawatan sekali saja tidak akan membunuh telur yang belum menetas.
Ini baru sebagian kecil dari topik kesehatan burung. Kalau kamu mau gambaran lengkap soal tanda burung sehat, penyakit umum, dan nutrisi, baca Panduan Lengkap Kesehatan Burung.
Pencegahan agar Kutu dan Tungau Tidak Balik Lagi
- Karantina burung baru selama 1 sampai 2 minggu sebelum dicampur dengan burung lama.
- Bersihkan dasar kandang dan ganti alas setiap hari.
- Sterilkan sangkar bekas dengan air panas sebelum dipakai lagi.
- Jauhkan sangkar dari burung liar yang bisa hinggap dan menularkan parasit.
- Jemur burung 20 sampai 30 menit setiap pagi dan periksa bulunya sambil dijemur.
Kondisi tubuh burung juga berpengaruh. Burung yang gizinya tercukupi lebih tahan menghadapi serangan parasit ringan. Kalau pakan harianmu masih asal-asalan, mulai dari Panduan Lengkap Makanan Burung.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah kutu dan tungau burung bisa menular ke manusia?
Sebagian besar tidak. Kutu bulu dan tungau kudis burung tidak bisa berkembang biak di tubuh manusia. Tungau merah memang bisa menggigit manusia dan menimbulkan rasa gatal, tapi hanya sesaat dan tidak akan tinggal di kulitmu. Gigitan itu biasanya hilang sendiri setelah kandang dibersihkan.
Berapa lama pengobatan sampai benar-benar tuntas?
Biasanya butuh 2 sampai 3 minggu. Siklus hidup tungau sekitar 7 sampai 10 hari, jadi satu kali perawatan tidak cukup. Kamu perlu mengulang pembersihan sangkar dan pemberian obat setelah seminggu untuk membasmi telur yang baru menetas.
Bolehkah memakai obat kutu untuk kucing atau anjing pada burung?
Jangan. Burung jauh lebih sensitif terhadap insektisida dibanding kucing dan anjing, dan banyak produk kutu kucing mengandung bahan yang beracun bagi burung. Selalu pakai produk yang memang khusus untuk burung, dan konsultasikan dosisnya ke dokter hewan kalau ragu.
Bagaimana cara membersihkan kerak putih di kaki burung?
Rendam kaki burung dengan air hangat untuk melunakkan kerak, lalu oleskan tipis-tipis minyak kelapa atau vaselin untuk melembapkan. Setelah itu beri salep sulfur sesuai anjuran. Jangan mencabut kerak secara paksa karena bisa melukai kulit dan menyebabkan infeksi.